Blog ni Bayo Parkusip

padang lawas tano hangoluan

Siapakah Kita Hingga Pantas Mengklaim Diri Sempurna?

Sabtu, 01 Agustus 2009

Konon, salah satu profesi paling bergengsi adalah sebagai konsultan. Baik konsultan management, motivator, trainer dan beragam jenis konsultan lainnya. Diluar soal penghasilan, profesi sebagai konsultan itu sekeren namanya;’tempat berkonsultasi’. Lazimnya, kita berkonsultasi kepada orang yang dianggap memiliki ’kelebihan’ dari kita. Sebab, tidaklah mungkin mengkonsultasi sesuatu kepada orang yang tidak memiliki kelebihan itu. Karena posisinya yang tinggi itu, kemudian kita sering salah kaprah. Kita menganggap bahwa konsultan adalah orang yang serba tahu dan serba benar. Sehingga, kita mengira bahwa seorang konsultan adalah manusia sempurna yang terbebas dari kesalahan dan kelemahan. Apa benar demikian?

Sekedar untuk memudahkan pembahasan selanjutnya, mari kita membagi fungsi konsultan kedalam 2 bagian besar. Sebut saja konsultan bidang teknis, dan non-teknis. Bidang teknis misalnya konsultan management, konsultan proyek dan sebagainya. Sedangkan konsultan non teknis misalnya konsultan psikologi, konsultan bimbingan penyuluhan, konsultan perilaku, serta para trainers dan motivators yang juga termasuk kedalamnya.

Mari kita bahas tentang konsultan bidang teknis. Para konsultan bidang teknis sekurang-kurangnya harus memiliki 2 hard skill. Yaitu, penguasaan terhadap bidang yang ditanganinya, dan kedua adalah pengalaman aktual yang pernah dijalaninya. Sehingga, agak janggal jika seseorang yang hanya memahami textbook menjadi konsultan bidang teknis. Karena, jasa konsultasi yang diberikannya harus ditopang oleh pengalaman nyata yang dijalani dilapangan. Misalnya, jika seseorang mengatakan; ”begini lho, cara menjual yang sukses itu…” tapi dia tidak pernah menjadi seorang sales person. Wagu.

Masalahnya adalah; kita tidak mungkin ’mengalami’ semua hal teknis didalam industri manapun. Lagipula, ilmu berkembang terus, sehingga apa yang kita pelajari di bangku kuliah mungkin sudah tidak relevan lagi. Lebih dari itu, situasi dan lingkungan dunia bisnis kita terus-menerus bergerak. Sehingga, boleh jadi pengalaman kita tidak lagi sejalan dengan apa yang terjadi saat ini, apalagi kemungkinan-kemungkinannya dimasa depan. Lantas, bagaimana dong ya?

Bagaimana? Ya, ’bagaimana’ adalah jawabannya. Yaitu, ’bagaimana’ jika kita terus belajar? Sebab, jika kita terus belajar, maka sekurang-kurangnya kita memiliki 2 karakteristik unik, yaitu; pertama, kita selalu bisa mengadopsi pengetahuan dan kemampuan  baru. Kedua, kita memiliki sifat rendah hati. Sebab, kesadaran untuk terus belajar adalah bibit dari pengakuan bahwa kita ini bukan mahluk yang sempurna. Dan jika kita tidak sempurna, maka kita tidak memiliki alasan untuk menutup diri dari masukan dan kritikan orang lain. Sehingga, ’ukuran’ kepala kita tidak membesar hanya karena kita merasa sudah menjadi konsultan bagi orang lain.

Pertanyaannya sekarang adalah; siapakah guru terbaik untuk membimbingnya menjalani proses pembelajaran tanpa henti itu? Saya meyakini bahwa, guru terbaik bagi seorang konsultan teknis adalah; klien-kliennya. Berguru kepada klien? Mengapa tidak? Sebab, didalam permasalahan yang mereka hadapi itu tersimpan berjuta kesempatan untuk belajar dan meningkatkan diri.

Bagaimana dengan konsultan non-teknis? Secara pribadi saya menganggap bahwa tanggungjawab moral seorang konsultan non-teknis memiliki bobot yang lebih besar lagi. Mengapa? Karena, ketika kita berbicara tentang ’values’ atau sistem nilai dan moral, maka kita sama sekali tidak bisa memisahkan diri dari implementasi sistem nilai itu barang sedetikpun. Begitu idealnya. Misalnya, didalam bidang konsultasi non-teknis kita mengenal sebutan ’motivator’. Jika seseorang sudah menjadi atau mengklaim diri sebagai motivator, apakah dia tidak pernah kekurangan motivasi? Kenyataannya, kita tidak selalu bisa begitu. Sebab, bahkan para motivator pun mengetahui bahwa yang namanya motivasi itu sifatnya bisa naik dan bisa turun. Dan itu sama artinya dengan mengakui bahwa motivasi seorang motivator pun bisa turun. Dengan kata lain; seorang motivator sekalipun membutuhkan motivasi.

Butuh kebesaran hati untuk mengakui bahwa kita ini memang tidak sempurna. Dan lebih besar lagi kebesaran hati yang mesti kita miliki untuk mengakui bahwa kita belajar dari orang-orang yang selama ini menjadi klien kita. Dari mereka yang menganggap bahwa kita adalah konsultan bagi mereka. Sebesar keberanian untuk mengakui bahwa guru-guru terbaik kita adalah mereka. Sehingga, selayaknya yang kita harapkan dari mereka bukanlah feedback atau komentar positif saja. Melainkan juga hal-hal tertentu yang mesti kita perbaiki. Sehingga, ketika kita mengharapkan feedback dari mereka, kita tidak hanya berharap mereka bicara bagus tentang yang ingin kita dengar. Melainkan juga, kekurangan yang bisa kita tingkatkan. Dengan begitu, seorang konsultan bisa diposisikan sederajat dengan kliennya. Tidak lebih tinggi. Atau lebih rendah. Sebab, klien membutuhkan sang konsultan untuk membantunya menemukan solusi. Sedangkan konsultan membutuhkan kliennya lebih dari sekedar urusan uang. Melainkan sebagai guru, untuk terus belajar dan meningkatkan diri. Dengan begitu, kita kembali kepada kesadaran bahwa; kita ini memang tidak sempurna. Namun, dibalik ketidaksempurnaan ini, kita bisa saling mengisi agar bisa semakin baik dari hari ke hari.

Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman 

1 Agustus 2009 - Posted by | Motivasi |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: