Blog ni Bayo Parkusip

padang lawas tano hangoluan

Untaian mutiara kisah kelahiran manusia utama – bagian ke-1

Selasa, 7 Juli 2009

RIWAYAT SINGKAT PENYUSUN RISALAH
 
Al-Habib Al-Imam Al-‘Allamah Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi dilahirkan pada hari Jum’at 24 Syawal 1259 H. di Qasam, sebuah kota di negeri Hadramaut.
 
Beliau dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya; ayahandanya: Al-Imam Al-‘arif-billah Muhammad bin Husain bin Abdullah Al-Habsyi dan ibundanya: As-Syarifah Alawiyyah binti Husain bin Ahmad Al-Haadi Al-Jufri, yang pada masa itu terkenal sebagai seorang wanita yang salihah dan amat bijaksana.
 
Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Qur’an dan berhasil menguasai ilmu-ilmu dzahir dan bathin sebelum mencapai usia yang biasanya dibutuhkan untuk itu. Oleh karenanya, sejak itu, beliau diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan khalayak ramai,sehingga dengan cepat sekali ia menjadi pusat perhatian dan kekaguman serta memperoleh tempat terhormat di hati setiap orang. Kepadanya diserahkan tampuk kepemimpinan tiap majlis ilmu, lembaga pendidikan serta pertemuan-pertemuan besar yang diadakan pada masa itu.
 
Selanjutnya beliau melaksanakan tugas suci yang dipercayakan padanya dengan sebaik-baiknya. Menghidupkan ilmu pengetahuan Agama yang sebelumnya banyak dilupakan. Mengumpulkan, mengarahkan dan mendidik para siswa agar menuntut ilmu, disamping membangkitkan semangat mereka dalam mengejar cita-cita yang tinggi dan mulia.
 
Untuk menampung mereka, dibangunnya masjid “Riyadh” di kota seiwun (Hadramaut), pondok-pondok dan asrama-asrama yang diperlengkapi dengan berbagai sarana untuk memenuhi kebutuhan mereka, termasuk soal makan minum, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang dan tentram, bebas dari segala pikiran yang mengganggu, khususnya yang bersangkutan dengan keperluan hidup sehari-hari.
 
Bimbingan dan asuhan beliau seperti ini telah memberinya hasil kepuasan yang tak terhingga dengan menyaksikan banyak sekali daintara murid-muridnya yang berhasil mencapai apa yang dicitakannya, kemudian meneruskan serta menyiarkan ilmu yang telah mereka peroleh, bukan saja di daerah Hadramaut, tapi tersebar luas dibeberapa negeri lainnya di afrika dan asia, termasuk di Indonesia.
 
Di tempat-tempat itu mereka mendirikan pusat-pusat da’wah dan penyiaran agama, mereka sendiri menjadi perintis dan pejuang yang gigih, sehingga mendapat tempat terhormat dan disegani di kalangan masyarakat setempat. Pertemuan-pertemuan keagamaan diadakan pada berbagai kesempatan. Lembaga-lembaga pendidikan dan majlis-majlis ilmu didirikan dibanyak tempat, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan dalam ruang lingkup yang luas sekali.
 
Al-Habib Ali sendiri telah menjadikan dirinya sebagai contoh teladan terbaik dalam menghias diri dengan akhlaq yang mulia, disamping kedermawanannya yang terkenal di mana-mana serta kewibawaannya yang merata, baik diantara tokoh-tokoh terkemuka ataupun masyarakat awam, sehingga setiap kali timbul kesulitan atau keruwetan diantara mereka, niscaya beliau diminta tampil kedepan untuk menyelesaikannya.
 
Beliau meninggal dunia di kota Seiwun, Hadramaut, pada hari Ahad 20 Rabi’ul-Akhir 1333 H. dan meninggalkan beberapa orang putera yang telah memperoleh pendidikan sebaik-baiknya dari beliau sendiri, yang meneruskan cita-cita beliau dalam berda’wah dan menyiarkan Agama.
 
*****
Diantara putera-putera beliau yang dikenal di Indonesia ialah puteranya yang bungsu : Al-Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, pendiri masjid “Riyadh” di kota solo (Surakarta). Ia dikenal sebagai pribadi yang amat luhur budi pekertinya, sopan-santun serta ramah-tamah terhadap siapapun terutama kaum yang lemah; fakir miskin;yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tamu dari berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian dan pertemuan-pertemuan keagamaan. Beliau meninggal dunia di kota Palembang pada tanggal 20 Rabi’ul-Awal 1373 H. dan dimakamkan di kota Surakarta.
 
Banyak sekali ucapan Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi yang telah dicatat dan dibukukan, disamping tulisan-tulisannya yang berupa pesan-pesan ataupun surat-menyurat dengan para ulama di masa hidupnya, juga dengan keluarga dan sanak kerabat, kawan-kawan serta murid-murid beliau, yang semuanya itu merupakan perbendaharaan ilmu dan hikmah yang tiada habisnya.
 
Dan diantara karangan beliau yang sangat terkenal dan dibaca pada berbagai kesempatan dimana-mana, termasuk di kota-kota di Indonesia, ialah risalah yang berisi kisah Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, dan diberinya judul: Shimthu’d-Durar fii Akhbaar Maulid Khairil Basyar wa Maa Lahu min Akhlaaq wa Aushaaf wa Siyar (Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia Utama; Ahklak, sifat dan Riwayat Hidupnya).
 
bersambung…….insya Allah.
=================================================
UNTAIAN MUTIARA (Shimthud-Durar)
Kisah Kelahiran Manusia Utama;
Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya
( Kisah maulid Nabi besar Muhammad SAW )
oleh : Al-Habib Al-Imam Al-Allamah Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi
=================================================

7 Juli 2009 - Posted by | Islami, Maulid Habsyi (Shimthud Durar) | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: