Blog ni Bayo Parkusip

padang lawas tano hangoluan

Hasan dan Husain

Sabtu, 4 Juli 2009

Oleh Prof Dr. Hamka

Prof. Dr. HAMKA mantan Ketua Majlis Ulama se-Indonesia. Juga beliau seorang Tokoh organisasi Muhammadiyah, seorang Ulama yang terkenal di banyak Negara-Negara Islam. Seorang Da’i ataupun Moballigh Islam. Seorang penulis yang telah banyak menulis buku-buku Islam dan umum, tidak kurang dari 113 buku, dan juga banyak memberi ceramah-ceramah agama di TV/Radio di Indonesia, Malaysia dan Negara Islam lainnya. Juga beliau telah menulis
tafsir al-Quran al-Azhar (30 juzu’).

Prof. Dr. Hamka telah menulis dalam kata Sambutan buku karangan H.M.H.Al
Hamid Al Husaini yang berjudul Al-Husain bin Ali Pahlawan Besar, dan
Kehidupan Islam pada Zamannya. Beliau dalam permulaan kata sambutan itu
telah membawa kata-kata mutiara dari al Imam Asy Syafi’i, yang berupa
sya’ir berkenaan Ahlulbaiyt yang maksudnya:

“Jika saya akan dituduh orang Syiah karena saya mencintai keluarga
Muhammad, maka saksikanlah oleh seluruh manusia dan jin, bahwa saya ini
adalah penganut Syi’ah.”(Al Imam Asy Syafi’i r.a)

Dengan kata-kata yang begitu tegas Al Imam Asy Syafi’i menyatakan
pendiriannya 13 abad yang telah lalu. Beliau dengan syi’ir yang begitu
gamblang menjelaskan pendiriannya, yaitu beliau mencintai keluarga
Muhammad s.a.w. ia itu anak-anak  dan cucu-cucu beliau. 

Jelas beliau tiada beranak laki-laki, karena anak laki-laki meninggal semua diwaktu kecilnya. Tetapi sebagai manusia beliau ingin mempunyai keturunan yang laki-laki. Sebab itu sebagai manusia beliau ingin akan keturunan
itu. Ketika lahir puteranya yang terakhir, Ibrahim dari perkawinannya
Mariah Al-Qubthiah, sangatlah beliau berbesar hati, karena inilah yang
akan menyambung keturunannya, sedang usia beliau ketika anak itu lahir
sudah lebih 60 tahun, sudah tua !

Namun Ilmu Ilahi lebih tinggi daripada Ilmu manusia ! Ibrahim yang 
diharapkan penyambung turunan itu, meninggal dunia dikala ia masih
menyusu. Kematian ini sangat membawa dukacita kepada Nabi s.a.w. sampai
titik air mata beliau dari sangat terharu.

Terkenal ucapan beliau s.a.w. ketika anak tercinta itu meninggal:” Hati sedih, air mata berlinang, namun dari mulut tidaklah akan keluar kata-kata yang tidak diriedhai oleh Tuhan kita.” Beliau bertambah tua. Harapan buat beranak laki-laki sudah tipis. Tetapi beliau ada mempunyai anak-anak perempuan:
1.Zainab. 2.Ruqayyah. 3.Ummu Kultsum dan 4.Fatimah.

Zainab kawin dengan Ibnul ‘Aash, Ruqaiyyah dan Umu Kultsum kawin
dengan “Uthman bin ‘Affan berganti, karena Ruqayyah meninggal selagi
muda, lalu Nabi s.a.w.mengawinkan “Uthman dengan “Ummu Kulthum lalu
diberi gelar oranglah ‘Uthman dengan:”Dzin Nuraini” (yang mempunyai dua
cahaya).

Adapun Fatimah beliau kawinkan dengan Ali bin Abi Thalib. Perkawinan Fathimah dengan ‘Ali bin Abi Thalib adalah pearkawinan paling ideaal menurut masyarakat ‘Arab. Sebab Nabi Muhammad s.a.w. adalah
putera Abdullah dan Abdullah adalah putera dari Abdul Muthalib. Sedang
‘Ali , yang diambilnya jadi suami anaknya Fathimah, adalah anak dari Abi
Thalib dan Abi Thalib adalah anak pula dari Abdul Muthalib. Sebab itu
maka Abi Thalib ayah ‘Ali adalah saudara satu ayah dengan Abdullah ayah
Nabi s.a.w.

Sebab itu meskipun Nabi s.a.w. tidak dikurniakan anak laki-laki
besarlah harapan beliau moga-moga Fathimah Azzahra yang telah kawin
dengan ‘Ali mendapat keturunan anak laki-laki yang diharapkan. Pada tahun
ketiga Hijriyah lahirlah anak pertama, dinamai Hasan. Setahun dibelakang
itu lahir anak kedua, dinamai Husain.

Nabi s.aw. sangat mencintai kedua cucu ini. Abu Ahmad Al-Askari
mengatakan: “Dizaman jahiliyah belum dikenal orang kedua nama itu.”
Al-Bukhari, perawi Hadis terbesar meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Umar, bahwa Rasulallah s.a.w. pernah bersabda yang maksudnya:

“Keduanya (Hasan dan Husain) adalah kembang mekarku dalam dunia ini.”

Di dalam sebuah Hadits lagi yang dirawikan oleh Att Tirmizi dari Usman bin Zaid, pernah Nabi s.a.w.bersabda yang maksudnya:

“Keduanya ini adalah anakku dan anak dari anak perempuanku. Ya Allah! Aku mencintai keduanya dan akupun cinta kepada siapa yang mencintai keduanya.”

Menurut riwayat Al Bukhari yang diterimanya dari Abi Bukrah, dia
ini berkata:

“Aku pernah melihat Nabi s.a.w.sedang berdiri di atas mimbar sedang Hasan duduk melihat sebentar kepada orang banyak, lalu melihat pula kepada Nabi s.a.w. sebentar. Maka bersabdalah Nabi s.a.w. yang maksudnya:

“Sesungguhnya anakku ini adalah Sayid (Tuan). Dan moga-moga Allah
akan mendamaikan dengan anak ini di antara dua golongan kaum Muslimin.”

Dengan kedua sabda ini, Nabi s.a.w. saking kasihnya telah memproklamirkan (mempamirkan)  kepada seluruh ummatnya, bahwa anak ‘Ali bin Abi Thalib
dalam perkawinannya dengan Fathimah itu adalah anak beliau juga ! Atau
cucu beliau juga !

Demikianlah antara lain kata-kata aluan dari Prof.Dr.HAMKA.berkenaan Ahlulbaiyt. 

Oleh Prof Dr. Hamka

 

Prof. Dr. HAMKA mantan Ketua Majlis Ulama se-Indonesia. Juga beliau seorang Tokoh organisasi Muhammadiyah, seorang Ulama yang terkenal di banyak Negara-Negara Islam. Seorang Da’i ataupun Moballigh Islam. Seorang penulis yang telah banyak menulis buku-buku Islam dan umum, tidak kurang dari 113 buku, dan juga banyak memberi ceramah-ceramah agama di TV/Radio di Indonesia, Malaysia dan Negara Islam lainnya. Juga beliau telah menulis
tafsir al-Quran al-Azhar (30 juzu’).

Prof. Dr. Hamka telah menulis dalam kata Sambutan buku karangan H.M.H.Al
Hamid Al Husaini yang berjudul Al-Husain bin Ali Pahlawan Besar, dan
Kehidupan Islam pada Zamannya. Beliau dalam permulaan kata sambutan itu
telah membawa kata-kata mutiara dari al Imam Asy Syafi’i, yang berupa
sya’ir berkenaan Ahlulbaiyt yang maksudnya:

“Jika saya akan dituduh orang Syiah karena saya mencintai keluarga
Muhammad, maka saksikanlah oleh seluruh manusia dan jin, bahwa saya ini
adalah penganut Syi’ah.”(Al Imam Asy Syafi’i r.a)

Dengan kata-kata yang begitu tegas Al Imam Asy Syafi’i menyatakan
pendiriannya 13 abad yang telah lalu. Beliau dengan syi’ir yang begitu
gamblang menjelaskan pendiriannya, yaitu beliau mencintai keluarga
Muhammad s.a.w. ia itu anak-anak  dan cucu-cucu beliau. 

Jelas beliau tiada beranak laki-laki, karena anak laki-laki meninggal semua diwaktu kecilnya. Tetapi sebagai manusia beliau ingin mempunyai keturunan yang laki-laki. Sebab itu sebagai manusia beliau ingin akan keturunan
itu. Ketika lahir puteranya yang terakhir, Ibrahim dari perkawinannya
Mariah Al-Qubthiah, sangatlah beliau berbesar hati, karena inilah yang
akan menyambung keturunannya, sedang usia beliau ketika anak itu lahir
sudah lebih 60 tahun, sudah tua !

Namun Ilmu Ilahi lebih tinggi daripada Ilmu manusia ! Ibrahim yang 
diharapkan penyambung turunan itu, meninggal dunia dikala ia masih
menyusu. Kematian ini sangat membawa dukacita kepada Nabi s.a.w. sampai
titik air mata beliau dari sangat terharu.

Terkenal ucapan beliau s.a.w. ketika anak tercinta itu meninggal:” Hati sedih, air mata berlinang, namun dari mulut tidaklah akan keluar kata-kata yang tidak diriedhai oleh Tuhan kita.” Beliau bertambah tua. Harapan buat beranak laki-laki sudah tipis. Tetapi beliau ada mempunyai anak-anak perempuan:
1.Zainab. 2.Ruqayyah. 3.Ummu Kultsum dan 4.Fatimah.

Zainab kawin dengan Ibnul ‘Aash, Ruqaiyyah dan Umu Kultsum kawin
dengan “Uthman bin ‘Affan berganti, karena Ruqayyah meninggal selagi
muda, lalu Nabi s.a.w.mengawinkan “Uthman dengan “Ummu Kulthum lalu
diberi gelar oranglah ‘Uthman dengan:”Dzin Nuraini” (yang mempunyai dua
cahaya).

Adapun Fatimah beliau kawinkan dengan Ali bin Abi Thalib. Perkawinan Fathimah dengan ‘Ali bin Abi Thalib adalah pearkawinan paling ideaal menurut masyarakat ‘Arab. Sebab Nabi Muhammad s.a.w. adalah
putera Abdullah dan Abdullah adalah putera dari Abdul Muthalib. Sedang
‘Ali , yang diambilnya jadi suami anaknya Fathimah, adalah anak dari Abi
Thalib dan Abi Thalib adalah anak pula dari Abdul Muthalib. Sebab itu
maka Abi Thalib ayah ‘Ali adalah saudara satu ayah dengan Abdullah ayah
Nabi s.a.w.

Sebab itu meskipun Nabi s.a.w. tidak dikurniakan anak laki-laki
besarlah harapan beliau moga-moga Fathimah Azzahra yang telah kawin
dengan ‘Ali mendapat keturunan anak laki-laki yang diharapkan. Pada tahun
ketiga Hijriyah lahirlah anak pertama, dinamai Hasan. Setahun dibelakang
itu lahir anak kedua, dinamai Husain.

Nabi s.aw. sangat mencintai kedua cucu ini. Abu Ahmad Al-Askari
mengatakan: “Dizaman jahiliyah belum dikenal orang kedua nama itu.”
Al-Bukhari, perawi Hadis terbesar meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Umar, bahwa Rasulallah s.a.w. pernah bersabda yang maksudnya:

“Keduanya (Hasan dan Husain) adalah kembang mekarku dalam dunia ini.”

Di dalam sebuah Hadits lagi yang dirawikan oleh Att Tirmizi dari Usman bin Zaid, pernah Nabi s.a.w.bersabda yang maksudnya:

“Keduanya ini adalah anakku dan anak dari anak perempuanku. Ya Allah! Aku mencintai keduanya dan akupun cinta kepada siapa yang mencintai keduanya.”

Menurut riwayat Al Bukhari yang diterimanya dari Abi Bukrah, dia
ini berkata:

“Aku pernah melihat Nabi s.a.w.sedang berdiri di atas mimbar sedang Hasan duduk melihat sebentar kepada orang banyak, lalu melihat pula kepada Nabi s.a.w. sebentar. Maka bersabdalah Nabi s.a.w. yang maksudnya:

“Sesungguhnya anakku ini adalah Sayid (Tuan). Dan moga-moga Allah
akan mendamaikan dengan anak ini di antara dua golongan kaum Muslimin.”

Dengan kedua sabda ini, Nabi s.a.w. saking kasihnya telah memproklamirkan (mempamirkan)  kepada seluruh ummatnya, bahwa anak ‘Ali bin Abi Thalib
dalam perkawinannya dengan Fathimah itu adalah anak beliau juga ! Atau  cucu beliau juga !

Demikianlah antara lain kata-kata aluan dari Prof.Dr.HAMKA.berkenaan Ahlulbaiyt.

4 Juli 2009 - Posted by | Islami |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: