Ungut-ungut sipaingot
Sabtu, 01 Agustus 2009
Malapat lapat baya ria-ria
Naompas tu batang koje
Ulang lalat dongan manjalaki dunia
Pikirkon do sibuk ingkon namate
Layang layang terbang melayang
Ditoru nai alak namanyabi
Muda masuk dongan waktu sumbayang
Tinggalkon majolo karejo mi
Panyabungan tu Kotanopan
Antara nai Purba Lamo
Duniaon porlu iparsitiopan Baca selebihnya »
Gordang Sambilan
Minggu, 5 Juli 2009
Bangsa kita yang majemuk merupakan suatu realitas yang tidak bisa dipungkiri. Untuk itu, menurut Ibu Meutia Farida Hatta Swasono, perlu memberi tempat dan kesempatan bagi berkembangnya kebudayaan suku-suku bangsa yang ada di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan suku-suku bangsa di tanah air, bersama-sama dengan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara, mewarnai perilaku dan kegiatan kita. Berbagai ragam kebudayaan itu berseiringan, saling melengkapi dan saling mengisi, tidak berdiri sendiri-sendiri, bahkan mampu untuk saling menyesuaikan (fleksibel) dalam percaturan hidup sehari-hari. Kelangsungan dan berkembangnya kebudayaan lokal perlu dijaga dan dihindarkan dari berbagai hambatan. Unsur-unsur budaya lokal yang bermanfaat perlu dikembangkan lebih lanjut agar dapat menjadi bagian dari kebudayaan bangsa guna memperkaya unsur-unsur kebudayaan nasional.[1] Baca selebihnya »
Sejarah Mandailing
Petikan dari Buku Cenderamata Lembaga Adat Mandailing Malaysia). Orang Mandailing diriwayatkan berasal dari Munda yaitu sebuah daerah di India Tengah. Mereka telah berpindah-pindah pada abad-ke 6, karena terpukul dengan serangan bangsa Arayan dari Irak yang meluaskan pengaruh mereka.
Setelah melintasi Gunung Himalaya mereka menetap sebentar di Mandalay, yaitu ibu negara Baca selebihnya »
Marga-marga Mandailing
Minggu, 5 Juli 2009
Orang-orang Mandailing mengelompokkan diri mereka dalam beberapa marga, sebagai keturunan daripada seorang tokoh nenek moyang. Masing-masing kelompok marga mempunyai seorang tokoh nenek moyangnya sendiri yang “berlainan asal”. Pendek kata, masyarakat Mandailing merupakan kesatuan beberapa marga yang berlainan asalnya.
Silsilah keturunan itu dinamakan tarombo dan sampai sekarang masih banyak disimpan oleh orang-orang Mandailing sebagai warisan turun-temurun yang dipelihara baik-baik. Melalui tarombo, orang-orang Mandailing yang semarga mengetahui asal-usul dan jumlah keturunan mereka sampai ini hari. Melalui jumlah keturunan dapat diperhitungan sudah berapa lama suatu kelompok marga mendiami wilayah Mandailing.
Marga dapat dirumuskan sebagai “kelompok orang yang dari keturunan seorang nenek moyang yang sama, dan garis keturunan itu diperhitungkan melalui bapa atua bersifat patrilineal. Semua anggota marga memakai nama marga yang dipakai/dibubuhkan sesudah nama sendiri, dan nama marga itu menandakan bahwa orang yang menggunakannya mempunyai nenek moyang yang sama. Mungkin tidak dapat diperinci rentetan nama para nenek moyang yang menghubungkan orang-orang semarga dengan nenek moyang mereka, sekian generasi yang lalu, namun ada suatu keyakinan bahwa orang-orang yang menggunakan nama marga yang sama terjalin hubungan darah, dan salah satu pertandanya adalah larangan kahwin bagi wanita dan pria yang mempunyai nama marga yang sama”.
Nama marga-marga yang terdapat di Mandailing pada umumnya tidak muncul serentak. Kebiasaannya nama marga muncul dan mulai dipakai pada keturunan ketiga setelah nenek moyang bersama. Ini mungkin kerana pada generasi ketiga keturunan seorang nenek moyang mulai banyak jumlahnya sehingga mereka mulai memerlukan suatu nama identitas, iaitu nama marga.
Ada yang memperkirakan bahwa di Mandailing terdapat 13 marga. Marga-marga itu ialah :
1. Hasibuan 6. Nasution 10. Matondang
2. Dalimunte 7. Rangkuti 11. Batu Bara
3. Mardia 8. Parinduri 12. Tanjung
4. Pulungan 9. Daulae 13. Lintang
5. Lubis
Lumrahnya setiap marga mempunyai nenek moyang yang sama. Tetapi ada juga sejumlah marga yang berlainan nama tetapi mempunyai nenek moyang yang sama. Misalnya, marga Rangkuti dan Parinduri; Pulungan, Lubis dan Harahap; Daulae Matondang serta Batu Bara. Melalui tarombo atau silsilah keturunan dapat diketahui nenek moyang bersama sesuatu marga. Dan dari jumlah generasi yang tertera dalam tarombo dapat pula diperhitungkan berapa usia suatu marga atau sudah berapa lama suatu marga tinggal di Mandailing.
Dari banyak marga tersebut, terdapat dua marga besar yang berkuasa, yang masing-masing menduduki sebuah wilayah luas yang bulat. Marga itu adalah Nasution di Mandailing Godang dan Lubis di Mandailing Julu.
dikutip dari http://www.mandailing.org
Adat mandailing Tapanuli Selatan
Minggu, 5 juli 2009
Disahonok hangoluan i adong hal-hal nasapatutna dilalui dohot mambaen acara sakral mangalibatkon harajaon, situan natorop dohot sutuan najaji didia dibagasan tulisan on dicubo diuraion sada-sada dohot maksud anso diparsiajari dohot dipature mur tupadena nabisa dibaen manjadi patunjuk tu naumposo tu pudi niari.
Pangalaman nabahat manjadi bahan ima pangalaman-pangalaman sewaktu menek penulis selalu dioban kehe tu horja ni halak didia tugas niba hum na manyimpan sipatu dohot tungkot dung lalu tu bagas horja asa mambuatna mulak dung salose horjai. Jadi sahonok horjai waktu i inda manjadi parhatian aha na diobari tai sannari na dibicarahon pada waktu i binoto mulak asa iba songon na mangarekam nabaru parbinotoan i.
Selanjutna aha-aha na ditorangkon dibagasan tulisan on diakui inda samata-mata tardok manyangkut paradaton Mandailing, harana inda adong batas-batas na pasti dohot dua alasan:
- Paradaton di Mandailing dohot Angkola, Sipirok dohot Padang Lawas madung dipengaruhi Agama Islam sahinggo bahatna martontangan dohot Agama Islam madung dihapuskon. Pengaruh Islam on umbahat di Mandailing sahinggo seolah-olah adat di Mandailing marbeda, padahal manurut penulis pada hakikina pada mulona sama do.
- Perbedaan kadua harana pengaruh ni bahasa dohot paradaton tording balok ima adat Melayu dohot Tapanuli Utara, sedangkan di Mandailing dibatasi olat ni pengaruh Agama Islam na ro sian koum Padri Sumatera Barat. Baca selebihnya »
Markusip
Sabtu, 4 Juli 2009
Tradisi Markusip di Tapanuli Selatan
Di dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat Mandailing terdapat suatu tradisi berkencan antara pemuda dan anak gadis yang disebut markusip.
Secara harafiah markusip artinya berdialog dengan cara berbisik. Pada tradisi markusip, si pemuda dan si anak gadis saling mengungkapkan isi hati dan perasaan mereka dengan cara berbisik. Baca selebihnya »
Sibuhuan
Sibuhuan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, Indonesia. Sibuhuan adalah tempat pusat pemerintahan Kabupaten Padang Lawas yang merupakan pemekaran Kabupaten Tapanuli Selatan. Baca selebihnya »
Lagu Mandailing
Lagu Mandailing Maia Siluana
6 Maret 2009
Setelah sempat beberapa minggu tidak aktif menulis di blog ini, Alhamdulillah setelah mengalami “penyegaran” di kampung halaman tercinta Mompang Julu, akhirnya kami dapat kembali menulis di blog ini. Beberapa pengalaman, info dan cerita yang kami peroleh selama pulang kampung insyaAllah akan kami bagi di sini. Tapi sebelumnya alangkah bagusnya kalau kami memberikan Silua (oleh-oleh) terlebih dahulu, khususnya buat para pengunjung blog ini. Oleh-oleh yang kami maksud bukanlah kipang, alame (dodol), kripik pisang, toge si Taing Tumpat Panyabungan apalagi kue bolu khas Panyabungan. Tapi oleh-oleh yang kami bawa adalah beberapa lagu Tapsel-Madina yang sengaja kami pilih untuk anda. Tapi seperti sebelumnya, lagu-lagu ini hanya sebagai sampel. Tidak semua lagu ini berada dalam satu CD. Jadi kami tetap mengharapkan kita semua MEMBELI KASET/CD-nya yang asli. Baca selebihnya »
Mangarsik
Mangarsik (menimba air) adalah salah satu cara menangkap gulaen (ikan) secara tradisional yang masih banyak dilakukan oleh sebagian penduduk di Mompang Julu. Caranya adalah dengan mengeringkan bondar (parit) yang diperkirakan banyak ikannya dan biasanya dikerjakan oleh beberapa orang. Biasanya juga mempunyai lubuk-lubuk tempat ikan berkumpul. Di sungai Siala Payung juga bisa, tetapi hanya pada waktu musim kemaru ketika aliran airnya mengecil dan banyak mempunyai cabang-cabang dan anda bisa menutup salah satunya. Kalau di bondar, empang tempat air yang mengalir di parit tersebut berasal, airnya dialirkan ke tempat lain. Atau bisa juga dengan memutus parit tadi dengan menggunakan cangkul dan tentu saja kalau seperti ini harus di parit (bondar) yang sepi atau bukan merupakan parit yang digunakan untuk mengairi sawah. Kalau tidak, bisa panjang ceritanya sampai ke pak Kepala Desa.


